Rindunya Anak Anak Akan Masuk Sekolah Tatap Muka, Begini Jawaban Pj Bupati Bengkalis

Rindunya Anak Anak Akan Masuk Sekolah Tatap Muka, Begini Jawaban Pj Bupati Bengkalis

Seiring pandemi Covid-19, anak-anak sekolah mulai beradaptasi dengan belajar secara digital. Namun, kerinduan belajar di sekolah tetap dirasakan oleh mereka. “Hampir 56 persen responden yang setuju PTM menyatakan alasan ini. Terutama kelas 6 SD, kelas 9 SMP, dan siswa kelas 12 SMA/SMK,” lanjutnya. Untuk diketahui, secara lengkap hasil survey yaitu 19,3 persen masih merasa nyaman dengan pembelajaran jarak jauh . “Makanya guru itu kita prioritaskan untuk vaksin. Di luar tenaga kesehatan dan lansia, sekarang guru yang menjadi prioritas pemerintah untuk vaksinasi,” jelasnya.

Sebelum masuk ke kelas, siswa juga diukur suhu tubuhnya dan diminta untuk mencuci tangan dengan sabun. Fatih yang juga duduk di kelas 4 SD mengikuti kelas Bahasa Indonesia. Suasana sekolah yang selama ini sepi, kini mulai ramai kembali dengan kehadiran peserta Slot Deposit Pulsa Tanpa Potongan didik. Menurutnya, belajar melalui dalam jaringan , sangat membosankan. Terlebih, sedikit inovasi yang dari guru dalam memberikan materi pelajaran yang diajarkan. ”Cuma ngasih materi, kita suruh belajar sendiri,” kata dara yang gemar membaca novel fiksi ini.

VIVA– Pembelajaran dengan sistem tatap muka yang bersifat terbatas, mulai diterapkan di Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Anak bungsu itu pun sudah menerapkan cara sederhana agar bisa terhindar dari Covid-19. Selain sebisa mungkin berdiam diri di rumah, siswa jurusan IPS ini pun rajin menjaga daya tahan tubuhnya agar tetap sehat dan kuat. “Harus makan teratur dan istirahat yang cukup. Kalau emang harus ke luar rumah, pas pulang langsung mandi dan ganti baju,” terangnya.

Namun, yang ia khawatirkan adalah anak-anak SD yang mungkin belum paham betul protokol kesehatan. “Kalau anak SMP dan SMA mungkin sudah mengerti protokol kesehatan. Tapi, kalau anak-anak di bawah kelas three SD, ada kemungkinan bersentuhan dengan teman di sekolah.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana yang juga Ketua Pelaksana Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Doni Monardo, mendukung kebijakan belajar tatap muka. Menurut dia, pemerintah daerahlah yang paham dan bisa mengambil peran untuk menentukan metode pembelajaran sesuai dengan wilayah masing-masing. Ia menyebut penyerahan kewenangan pemberlakuan pembelajaran tatap muka kepada daerah sebagai langkah bijaksana. Tito meminta pemerintah daerah mensosialisasi informasi bahwa pembelajaran tatap muka tetap menjalankan protokol kesehatan. Selain itu, perlu pengawasan dan evaluasi ketat dari pemerintah pusat. “Bila terjadi kluster karena tatap muka dan daerah sudah bertindak, kami akan memperkuatnya.

Ketika pemerintah menentukan kebijakan dari rumah, tuturnya, Latifah sebagai buru sebisa mungkin dapat melakukan kegiatan mengajar dan mendidik dari rumah. Setelah satu tahun menjalani home studying, rindu mengajar tatap muka di depan kelas dirasakan Latifah. “Kangen pastinya, kangen banget. Kangen dengan tugas mendidiknya, karena mengajar dan mendidik itu berbeda,” katanya. “Jika orang tua tidak mengizinkan, maka anak akan tetap mengikuti pelajaran secara daring,” kata Wali Kota Maidi. Sebagai orangtua, kamu pasti ingin menyekolahkan anak di tempat terbaik.

Anak rindu sekolah tatap muka

Alasan utama lainnya adalah orangtua tidak memiliki kemampuan mengajar dengan baik. orangtua sulit memahami materi belajar, apalagi untuk kelas-kelas atas, seperti SMP dan SMA. Selain itu orangtua juga tidak memiliki kemampuan mengajar dengan baik. Sistem pembelajaran jarak jauh membuat orangtua perlu ekstra mendampingi anak. Sayangnya, momen yang seharusnya membahagiakan justru sebaliknya membuat anak maupun orangtua frustasi. Meskipun sudah cukup lama, nampaknya PJJ masih memiliki banyak kendala.

Pada benda seperti komputer, pill, mainan, dan buku tidak dianjurkan untuk digunakan bersama-sama. Apabila tetap ingin digunakan maka harus dibersihkan dengan sabun dan air atau desinfektan sebelum digunakan. daerah 3T masih terdapat sekolah yang tidak pernah terhubung dengan listrik, apalagi web. Sementara Sofia asal Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, bercerita beberapa orangtua dari temannya kehilangan pekerjaan sejak pandemi covid-19.

Comments are closed.